Jumat, 25 Mei 2012
Tema : Pengembangan Prosedur
PENGEMBANGAN PROSEDUR IMPLEMENTASI TERAPI KONSELING KOGNITIF UNTUK MENGATASI DEPRESI SISWA SMP/SMU DI KODYA SURABAYA TAHUM 1999/2000
Muhari
Latar Belakang Masalah
Pada saat ini banyak siswa yang mengalami masalah ,salah satu diantaranya adalah depresi yang mengakibatkan siswa tidak dapat belajar secara efektif, bahkan dapat mengakibatkan siswa tersebut bunuh diri.
Di Indonesia pada masa kini, banyak siswa yang dihadapkan dengan masalah – masalah berat, baik masalah pribadi, sosial, maupun studi yang mengakibatkan depresi pada siswa. Ada beberapa macam terapi yang digunakan untuk membantu individu mengatasi depresi yang dialaminya,salah atunya adalah terapi konseling kognitif.
Tujuan Penelitian
• Untuk menghasilkan suatu produk bahan yang berupa rancangan buku panduan prosedur implementasi terapi konseling kognitif yang efektif.
Metodelogi
Variable : variable pada penelitian ini lebih terfokus pada kegiatan evaluasi formatif meliputi uji keefektifan serta ditambah dengan satu kegiatan perancangan, yaitu: merancang model produk, reviu ahli, penilaian perseorangan, dan penilaian kelompok kecil. Selain itu,variabel yang dikaji yaitu : efektivitas rancangan buku panduan yang berisi prosedur implementasi terapi konseling kognitif serta hambatan dari pelaksanaan implementasi terapi konseling kognitif untuk menangani depresi siswa.
Data : Rujukan data yang digunakan peneliti diambil melaui data primer dan data sekunder, yang didapat dari survey,reviu ahli, wawancara konselor – konselor sekolah, dan hasil penilaian kelompok kecil.
Tahapan Penelitian : Tahapan pertama yang peneliti lakukan dalam melakukan penelitiaannya dilakukan melalui empat fase tahapan. Dimulai dari merancang model produk, reviu ahli, penilaian perseorangan, dan yang terakhir adalah penilaian kelompok kecil.
Model Penelitian : Model penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian pengembangan yang pelaksanaan penelitiannya dilakukan dengan menggunakan model evaluasi formatif.
Hasil
Dari studi kasus yang dilakukan oleh peneliti, memperlihatkan tingkat keefektifan yang tinggi untuk masing – masing komponen prosedur.
Dalam jurnal tersebut peneliti juga mengungkapkan sejumlah hambatan yang dialami oleh subyek penelitian dalam menerapkan terapi konseling kognitif sebagai berikut :
• Sulitnya penerapan terapi konseling kognitif
• Kurang jelas/lengkapnya buku panduan terapi konseling kognitif
• Kurangnya kesempatan dalam penerapannya
• Kurangnya pemahaman tentang terapi konseling mognitif
• Rumitnya terapi konseling kognitif
Kesimpulan
Peneliti mengungkapkan bahwa rancangan buku panduan prosedur implementasi terapi konseling kognitif dapat dikatakan efektif. Selain itu, dalam penerapannya hambatan yang dihadapi subyek penelitian tidak terlalu banyak.
Saran dan Usulan Lanjutan
Kekurangan yang tampak jelas terlihat pada jurnal ini, terlihat pada bagian hasil penelitian yang tidak disertai dengan tabel atau grafik, sehingga disarankan agar melengkapinya dengan tabel dan grafik. Karena sesungguhnya tabel dan grafik dapat memudahkan pembaca untuk dapat melihat dengan lebih jelas dan lebih memahami hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti.
Definisi motivasi dan teori
Definisi Motivasi dan Teori-Teori Motivasi
Motif seringkali diartikan dengan istilah dorongan. Dorongan atau tenaga tersebut merupakan gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat. Jadi motif tersebut merupakan suatu driving force yang menggerakkan manusia untuk bertingkah- laku, dan di dalam perbuatanya itu mempunyai tujuan tertentu.Setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu di mulai dengan motivasi (niat).
Berikut adalah beberapa definisi motovasi menurut beberapa ahli :
1. Menurut Wexley & Yukl (dalam As’ad, 1987) motivasi adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motif.
2. Menurut Mitchell (dalam Winardi, 2002) motivasi mewakili proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu.
3. Menurut Gray (dalam Winardi, 2002) motivasi merupakan sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu.
4. Morgan mengemukakan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek- aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang mendorong tingkah laku ( motivating states ), tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut ( motivated behavior ), dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut ( goals or ends of such behavior ).
5. McDonald, Motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. (Mr. Donald : 1950).
6. Menurut Suprihanto (2003)Motivasi merupakan masalah kompleks dalam organisasi, karena kebutuhan dan keinginan setiap anggota organisasi berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini berbeda karena setiap anggota suatu organisasi adalah unik secara biologis maupun psikologis, dan berkembang atas dasar proses belajar yang berbeda pula.
7. Soemanto (1987) secara umum mendefinisikan motivasi sebagai suatu perubahan tenaga yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi- reaksi pencapaian tujuan. Karena kelakuan manusia itu selalu bertujuan, kita dapat menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang memberi kekuatan bagi tingkahlaku mencapai tujuan,telah terjadi di dalam diri seseorang.
8. Motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan / tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan / keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan. (Drs. Moh. Uzer Usman : 2000)
9. Motivasi adalah kekuatan tersembunyi di dalam diri kita yang mendorong kita untuk berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas (Davies, Ivor K : 1986)
10. Motivasi adalah usaha – usaha untuk menyediakan kondisi – kondisi sehingga anak itu mau melakukan sesuatu (Prof. Drs. Nasution : 1995)
11. Chung dan Megginson yang dikutip oleh Faustino Cardoso Gomes, menerangkan bahwa pengertian motivasi adalah tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang yang mengejar suatu tujuan dan berkaitan dengan kepuasan kerja dan perfoman pekerjaan.
12. T. Hani Handoko mengemukakan bahwa motivasi adalah keadaan pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan.
13. A. Anwar Prabu Mangkunegara, memberikan pengertian motivasi dengan kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara prilaku yang berubungan dengan lingkungan kerja.
14. H. Hadari Nawawi mendefinisikan motivasi sebagai suatu keadaan yang mendorong atau menjadi sebab seseorang melakukan sesuatu perbuatan atau kegiatan yang berlangsung secara sadar.
15. Henry Simamora, pengertian motivasi menurutnya adalah Sebuah fungsi dari pengharapan individu bahwa upaya tertentu akan menghasilkan tingkat kinerja yang pada gilirannya akan membuahkan imbalan atau hasil yang dikehendaki.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah merupakan sejumlah proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu, baik yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi.
TEORI MOTIVASI
Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang. Dalam konteks studi psikologi, Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya: (1) durasi kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3) persistensi pada kegiatan; (4) ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan; (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan.
Untuk memahami tentang motivasi, kita akan bertemu dengan beberapa teori tentang motivasi, antara lain : (1) teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan); (2) Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi); (3) teori Clyton Alderfer (Teori ERG); (4) teori Herzberg (Teori Dua Faktor); (5) teori Keadilan; (6) Teori penetapan tujuan; (7) Teori Victor H. Vroom (teori Harapan); (8) teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku; dan (9) teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi. (disarikan dari berbagai sumber : Winardi, 2001:69-93; Sondang P. Siagian, 286-294; Indriyo Gitosudarmo dan Agus Mulyono,183-190, Fred Luthan,140-167)
1. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu : (1) kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex; (2) kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual; (3) kebutuhan akan kasih sayang (love needs); (4) kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan (5) aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.
Menarik pula untuk dicatat bahwa dengan makin banyaknya organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan makin mendalamnya pemahaman tentang unsur manusia dalam kehidupan organisasional, teori “klasik” Maslow semakin dipergunakan, bahkan dikatakan mengalami “koreksi”. Penyempurnaan atau “koreksi” tersebut terutama diarahkan pada konsep “hierarki kebutuhan “ yang dikemukakan oleh Maslow. Istilah “hierarki” dapat diartikan sebagai tingkatan. Atau secara analogi berarti anak tangga. Logikanya ialah bahwa menaiki suatu tangga berarti dimulai dengan anak tangga yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jika konsep tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua,- dalam hal ini keamanan- sebelum kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan, dan papan terpenuhi; yang ketiga tidak akan diusahakan pemuasan sebelum seseorang merasa aman, demikian pula seterusnya.
Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai kebutuhan manusia makin mendalam penyempurnaan dan “koreksi” dirasakan bukan hanya tepat, akan tetapi juga memang diperlukan karena pengalaman menunjukkan bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia berlangsung secara simultan. Artinya, sambil memuaskan kebutuhan fisik, seseorang pada waktu yang bersamaan ingin menikmati rasa aman, merasa dihargai, memerlukan teman serta ingin berkembang.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai hierarki. Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa :
* Kebutuhan yang satu saat sudah terpenuhi sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang;
* Pemuasaan berbagai kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan fisik, bisa bergeser dari pendekatan kuantitatif menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya.
* Berbagai kebutuhan tersebut tidak akan mencapai “titik jenuh” dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu.
Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini tampak lebih bersifat teoritis, namun telah memberikan fundasi dan mengilhami bagi pengembangan teori-teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya yang lebih bersifat aplikatif.
2. Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)
Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan :“ Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.”
Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu : (1) sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat; (2) menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya; dan (3) menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.
3. Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG)
Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG” . Akronim “ERG” dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu : E = Existence (kebutuhan akan eksistensi), R = Relatedness (kebutuhanuntuk berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan)
Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak dua hal penting. Pertama, secara konseptual terdapat persamaan antara teori atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. Karena “Existence” dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua dalam teori Maslow; “ Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat menurut konsep Maslow dan “Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization” menurut Maslow. Kedua, teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu diusahakan pemuasannya secara serentak. Apabila teori Alderfer disimak lebih lanjut akan tampak bahwa :
* Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya;
* Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan;
* Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar.
Tampaknya pandangan ini didasarkan kepada sifat pragmatisme oleh manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya, seseorang dapat menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan antara lain memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya.
4. Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)
Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.
Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.
Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku.
Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik.
5. Teori Keadilan
Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, dua kemungkinan dapat terjadi, yaitu :
* Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang lebih besar, atau
* Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Dalam menumbuhkan persepsi tertentu, seorang pegawai biasanya menggunakan empat hal sebagai pembanding, yaitu :
* Harapannya tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti pendidikan, keterampilan, sifat pekerjaan dan pengalamannya;
* Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang kualifikasi dan sifat pekerjaannnya relatif sama dengan yang bersangkutan sendiri;
* Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di organisasi lain di kawasan yang sama serta melakukan kegiatan sejenis;
* Peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jumlah dan jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai
Pemeliharaan hubungan dengan pegawai dalam kaitan ini berarti bahwa para pejabat dan petugas di bagian kepegawaian harus selalu waspada jangan sampai persepsi ketidakadilan timbul, apalagi meluas di kalangan para pegawai. Apabila sampai terjadi maka akan timbul berbagai dampak negatif bagi organisasi, seperti ketidakpuasan, tingkat kemangkiran yang tinggi, sering terjadinya kecelakaan dalam penyelesaian tugas, seringnya para pegawai berbuat kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing, pemogokan atau bahkan perpindahan pegawai ke organisasi lain.
6. Teori penetapan tujuan (goal setting theory)
Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni : (a) tujuan-tujuan mengarahkan perhatian; (b) tujuan-tujuan mengatur upaya; (c) tujuan-tujuan meningkatkan persistensi; dan (d) tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan. Bagan berikut ini menyajikan tentang model instruktif tentang penetapan tujuan
7. Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan )
Victor H. Vroom, dalam bukunya yang berjudul “Work And Motivation” mengetengahkan suatu teori yang disebutnya sebagai “ Teori Harapan”. Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya, yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya.
Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah.
Di kalangan ilmuwan dan para praktisi manajemen sumber daya manusia teori harapan ini mempunyai daya tarik tersendiri karena penekanan tentang pentingnya bagian kepegawaian membantu para pegawai dalam menentukan hal-hal yang diinginkannya serta menunjukkan cara-cara yang paling tepat untuk mewujudkan keinginannnya itu. Penekanan ini dianggap penting karena pengalaman menunjukkan bahwa para pegawai tidak selalu mengetahui secara pasti apa yang diinginkannya, apalagi cara untuk memperolehnya.
8. Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku
Berbagai teori atau model motivasi yang telah dibahas di muka dapat digolongkan sebagai model kognitif motivasi karena didasarkan pada kebutuhan seseorang berdasarkan persepsi orang yang bersangkutan berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya pun ditentukan oleh persepsi tersebut.
Padahal dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa kehendak seseorang ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi ekstrernal dari perilaku dan tindakannya. Artinya, dari berbagai faktor di luar diri seseorang turut berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku.
Dalam hal ini berlakulah apaya yang dikenal dengan “hukum pengaruh” yang menyatakan bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan.
Contoh yang sangat sederhana ialah seorang juru tik yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam waktu singkat. Juru tik tersebut mendapat pujian dari atasannya. Pujian tersebut berakibat pada kenaikan gaji yang dipercepat. Karena juru tik tersebut menyenangi konsekwensi perilakunya itu, ia lalu terdorong bukan hanya bekerja lebih tekun dan lebih teliti, akan tetapi bahkan berusaha meningkatkan keterampilannya, misalnya dengan belajar menggunakan komputer sehingga kemampuannya semakin bertambah, yang pada gilirannya diharapkan mempunyai konsekwensi positif lagi di kemudian hari.
Contoh sebaliknya ialah seorang pegawai yang datang terlambat berulangkali mendapat teguran dari atasannya, mungkin disertai ancaman akan dikenakan sanksi indisipliner. Teguran dan kemungkinan dikenakan sanksi sebagi konsekwensi negatif perilaku pegawai tersebut berakibat pada modifikasi perilakunya, yaitu datang tepat pada waktunya di tempat tugas.
Penting untuk diperhatikan bahwa agar cara-cara yang digunakan untuk modifikasi perilaku tetap memperhitungkan harkat dan martabat manusia yang harus selalu diakui dan dihormati, cara-cara tersebut ditempuh dengan “gaya” yang manusiawi pula.
9. Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi.
Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model motivasi yang sempurna, dalam arti masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan sistem motivasi yang terbaik, dalam arti menggabung berbagai kelebihan model-model tersebut menjadi satu model. Tampaknya terdapat kesepakan di kalangan para pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan imbalan dengan prestasi seseorang individu .
Menurut model ini, motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal adalah : (a) persepsi seseorang mengenai diri sendiri; (b) harga diri; (c) harapan pribadi; (d) kebutuhaan; (e) keinginan; (f) kepuasan kerja; (g) prestasi kerja yang dihasilkan.
Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah : (a) jenis dan sifat pekerjaan; (b) kelompok kerja dimana seseorang bergabung; (c) organisasi tempat bekerja; (d) situasi lingkungan pada umumnya; (e) sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya.
HUBUNGAN KONSEP DIRI DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL
Terkesampingkannya aspek sosial emosional terbukti pada fenomena dari para orang tua yang cenderung lebih bangga melihat anaknya menjadi juara kelas daripada menjadi penolong bagi temannya yang mengalami kesulitan pelajaran. Kenyataan dimasyarakat juga menunjukkan bahwa aspek kognitif cenderung lebih dihargai daripada aspek sosial emosional terbukti pada iklan di media massa, yang menunjukkan bahwa anak dinilai hebat jika mampu memecahkan persoalan matematis yang rumit dan
seakan-akan melupakan pentingnya kemampuan berinteraksi dengan lingkungan.
Usia siswa-siswa SMP dapat dikategorikan dalam masa remaja awal, yaitu
12-15 tahun (Monks, Knoers, & Haditono, 2004). Memasuki masa remaja, anak mulai melepaskan diri dari ikatan emosi dengan orang tuanya dan menjalin sebuah hubungan yang akrab dengan teman-teman sebayanya. Havighurst (dalam Hurlock, 1997) menjelaskan beberapa tugas perkembangan remaja yang berhubungan dengan perkembangan sosial emosional, yaitu menjalin hubungan dengan teman sebaya baik pria maupun wanita, mencapai suatu peran sosial baik bagi pria maupun wanita sesuai dengan jenis kelaminnya, melakukan perilaku sosial yang diharapkan, dan mencapai suatu kemandirian sosial dari orang tua dan dewasa disekitarnya. Salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit ialah berhubungan dengan penyesuaian sosialnya.
Menurut Iswinarti (2002), sebagian anak dengan IQ tinggi akan mengalami
kesulitan dalam penyesuaian sosial, karena anak dengan IQ tinggi mempunyai
pemahaman yang lebih cepat dan cara berpikir yang lebih maju sehingga sering tidak sepadan dengan teman-temannya. Kondisi tersebut semakin tidak diuntungkan dengan adanya labelling dari lingkungan sekitar terhadap siswa akselerasi. Mead (dalam Burns, 1993) menjelaskan pandangan, penilaian, dan perasaan individu mengenai dirinya yang timbul sebagai hasil dari suatu interaksi sosial sebagai konsep diri. Konsep diri mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap perilaku individu, yaitu individu akan bertingkah laku sesuai dengan konsep diri yang dimiliki (Rahmat, 1996). Pernyataan tersebut didukung oleh Burns (1993) yang menyatakan bahwa konsep diri akan mempengaruhi cara individu dalam bertingkah laku ditengah masyarakat.
Asyanti, Sofiati, dan Sudardjo (2002) menyatakan bahwa perempuan cenderung lebih mudah untuk melakukan penyesuaian sosial bila dibandingkan dengan laki-laki karena perempuan mempunyai perasaan yang lebih peka.Faktor budaya juga diprediksikan ikut andil terhadap penyesuaian sosial individu, sebab latar belakang budaya akan mempengaruhi pembentukan sikap, nilai, dan norma seseorang (Schneiders, 1964).Berdasarkan gambaran diatas yang menunjukkan penyesuaian sosial remaja merupakan hal penting untuk menyelesaikan tugas perkembangan, serta
andil perkembangan sosial emosional sebagai faktor cukup besar dalam
menentukan kebahagiaan dan kesuksesan.
Penyesuaian Sosial
Menurut Scheniders (1964) penyesuaian sosial adalah kemampuan
individu untuk bereaksi secara sehat dan efektif terhadap hubungan, situasi, dan
kenyataan sosial yang ada sehingga dapat mencapai kehidupan sosial yang
menyenangkan dan memuaskan. Penyesuaian sosial meliputi penyesuaian di
rumah atau keluarga, di sekolah, dan di masyarakat, yang dipengaruhi oleh faktor
kondisi fisik dan determinannya, perkembangan dan kematangan, determinasi
psikologi, kondisi lingkungan rumah, sekolah, masyarakat, serta budaya dan
agama.
Konsep Diri
Menurut Hurlock (1999) konsep diri adalah pandangan individu mengenai
dirinya. Konsep diri tersebut terdiri dari dua komponen, yaitu konsep diri
sebenarnya dan konsep diri ideal. Konsep diri sebenarnya adalah gambaran
mengenai diri, sedangkan konsep diri ideal adalah gambaran individu mengenai
kepribadian yang diinginkannya. Terdapat dua aspek konsep diri, yaitu fisik dan
psikologis.
Hubungan Konsep Diri dengan Penyesuaian Sosial pada Siswa Kelas
Akselerasi
Pandangan dan penilaian individu terhadap dirinya disebut dengan konsep
diri, yang akan mempengaruhi individu dalam bertingkah laku ditengah masyarakat (Burns, 1993). Hurlock (1999) menjelaskan bahwa individu dengan penilaian positif terhadap dirinya akan menyukai dan menerima keadaan dirinya sehingga akan mengembangkan rasa percaya diri, harga diri, serta dapat melakukan interaksi sosial secara tepat. Rasa percaya diri dan harga diri yang tumbuh seiring dengan adanya keyakinan terhadap kemampuan dirinya membuat individu cenderung tampil lebih aktif dan terbuka dalam melakukan hubungan sosial dengan orang lain. Relasi sosial yang luas akan menjadikan inidividu mampu mengerti dan melakukan apa yang diharapkan oleh lingkungan, sehingga memudahkannya untuk menyesuaikan dengan keadaan lingkungan. Penilaian yang negatif terhadap diri sendiri akan mengarah pada penolakan diri, sehingga individu akan cenderung mengembangkan perasaan tidak mampu, rendah diri, dan kurang percaya diri. Berdasarkan uraian diatas terlihat bahwa konsep diri seseorang, yaitu cara pandang dan penilaian individu pada dirinya sendiri akan berpengaruh terhadap penyesuaian sosialnya.
Hasil penelitian Scott dan Scott (1998) menunjukkan bahwa individu
dengan tingkat inteligensi tinggi akan menunjukkan penyesuaian sosial yang lebih
baik tanpa melihat perbedaan jenis kelaminnya. Sependapat dengan pernyataan
diatas, Schneiders (1964) menyatakan bahwa individu dengan tingkat inteligensi
tinggi cenderung akan bereaksi secara tepat terhadap situasi sosial yang dihadapi, sebab inteligensi berhubungan dengan pengaturan diri (self-regulation) dan realisasi diri (self-realization). Pengaturan diri adalah kemampuan untuk mengatur diri dan mengarahkan diri dalam menghadapi situasi sulit, konflik, dan frustrasi, sehingga dapat mencari jalan keluar secara tepat, efektif, dan efisien.
Jumat, 12 Februari 2010
12 Barisan di Akherat

Suatu ketika, Muadz bin Jabal ra menghadap Rasulullah SAW dan bertanya: ” Wahai Rasulullah, tolong uraikan kepadaku mengenai firman Allah SWT_”Pada saat sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris – baris.”(Q.S An-Naba’;18)_Sabda Rasulullah_”Wahai Muadz, engkau telah betanya kepadaku, perkara yang amat besar, bahwa umatku akan digiring dikumpulkan bebaris – baris.”
Barisannya:
1. Digiring dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Keadaan mereka ini dijelaskan melalui satu seruan dari sisi Allah Yang Maha Pengasih :
”Mereka itu adalah orang – orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati tetangganya , maka demikianlah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...”
2. Digiring dari kubur berbentuk babi hutan. Datanglah suara dari sisi Yang Maha Pengasih :
”Mereka dalah orang – orang yang sewaktu hidupnya meringan – ringankan sholat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...”
3 Mereka berbentuk keledai sedangkan perut mereka penuh dengan ular dan kalajengking.
”Mereka itu adalah orang yang enggan membayar zakat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...”
4. Digiring dari kubur dengan keadaan darah seperti pancuran keluar dari mulut mereka.
”Mereka itu adlah orang yang berdusta dalam jual – beli, maka inilah balasannya dan tempat kembalimereka adalah neraka...”
5. Digiring dari kubur dengan bau busuk dari bangkai.
Ketika itu Allah SWT menurunkan angin sehingga bau busuk itu menggangu ketentraman di Padang Mahsyar. ”Mereka itu adalah orang yang menyembunyikan perlakuan durhaka takut diketahui oleh manusia tetapi tidak pula merasa takut kepada Allah SWT, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...”
6. Digiring dari kubur derbga\n keadaan kepala mereka terputus dari badan.
”Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...”
7. Digiring dari kubur tanpa mempunyai lidah tetapi dari mulut mereka mengalir keluar nanah dan darah.
”Mereka itu adalah orang yang enggan memberi kesakaian diatas kebenaran, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...”
8. Digiring dari kubur dalam keadaan terbalik dengan kepala di bawah dan kaki di atas.
”Mereka adalah orang yang berbuat zina, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...”
9. Digiring dari kubur dengan berwajah hitam gelap dan bermata biru sementara dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh.
”Mereka adalah orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang tidak sebenarnya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...”
10. Digiring dari kubur mereka dalam keadaan tubuhu mereka penuh dengan penyakitsopak dan kusta.
”Mereka itu adalah orang yang durhaka kepada orang tuanya, maka inilah balasan mereka dan tempat kembali mereka adalah neraka...”
11. Digiring dari kubur mereka dengan keadaan buta mata-kepala, gigi mereka memanjang seperti tanduk lembu jantan, bibir mereka melebar sampai ke dada dan lidah mereka terjulur memanjang sampai ke perut mereka dan keluar beraneka kotoran.
”M ereka itu adalah orang yang minum arak, maka inilah balaan nya dan tempat kembali mereka adalah neraka...”
12. Digiring dari kubur dengan wajah yang bersinar-sinar laksana bulan purnama.
Mereka melalui Sirath seperti kilat. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih memaklumkan :
”Mereka adlah orang yang beramal sholeh dan banyak berbuat baik. Mereka menjauhi perbuatan durhaka, mereka sudah bertaubat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah syurga, mendapat ampunan, kasih sayang dan keridhaan Alllah Yang Maha Pengasih...”
Semoga kita semua di shaf yang ke-12 yang mendapat rahmat dari Alah SWT.
٭٭AMIN٭٭
Rabu, 16 Desember 2009
IBUKU

Aku bia melihat kilaumu...
Bukan hanya panca inderaku....
Tapi hati inipun merasakan
Kau begitu bercahaya
Aku ada...
Karna kau ada
Kau malaikat yang dikirim Allah untukku
Nyawa kau pertaruhkan
Demi aku....
Agar aku bisa melihat dunia
Aku lemah tanpamu
Aku tak ingin kehilanganmu
Karna kau ibuku.....
Ibu adalah ibuku
IBU ADALAH IBUKU

IBU. Bukan sebuah kata yang mempunyai satu makna. Sulit untuk mengartikan kata “IBU”. Kata yang begitu agung dan menggetarkan jiwa bila mendengarnya. Bila kutuliskan dalam artikel tentang Ibu tanpa ada batas, pasti akan menghabiskan kertas dan tinta bolpoinku.
Tidak ada kata-kata yang mampu mengungkapkan jasa-jasa dan kehormatan Ibu bagiku. Berjuta kata tak cukup mewakili ungkapan isi hatiku kepada Ibu. Berjuta hadiah ter mahal di dunia tak cukup mewakili rasa sayangku kepada Ibu,sekalipun nyawaku sebagai taruhannya.
Ibuku adalah wanita agung tercantik yang pernah aku kenal. Ibuku adalah wanita tersabar di dunia ini. Ini semua terbukti, beliau mampu mendampingi dan mengendalikan aku yang nakal ini.
Ibuku mampu membuatku lebih tahu. Aku yang belum tahu apa itu agama, nilai, norma, dan arti hidup,kini aku lebih tahu dan lebih mengerti walaupun itu hanya sedikit. Tanganku terhenti jika aku teringat tingkahku selama ini. Aku anak yang bodoh!! Aku anak yang tidak bisa terimakasih!! Aku anak yang tidak tahu malu!! Aku teringat kesalahanku kemarin, ketika aku bercanda. Aku merasa kata-kataku menyakiti beliau secara tidak langsung, walaupun raut wajah beliau tidak memperlihatkan ketersinggungan tetapi aku merasa bodoh telah bercanda yang salah. Ketika aku meminta maaf kepada beliau, beliau tidak menganggap aku salah. Aku merasa belum cukup apa yang aku berikan selama ini kepad Ibuku. Aku memang hanya seorang manusia yang tak luput dari kesalahan. Salah satu yang membuatku ingin cepat sampai di rumah ketika bepergian adalah bertemu dengan keluarga,terutama Ibu. Aku ini memang anak yang keras dan kaku tapi entah kenapa ,ketika aku aku berada di samping Ibuku aku merasa lemah. Sebesar apapun masalah yang aku alami, ketika aku berada dalam dekapanmu, Ibu, aku merasa lebih aman dan lebih baik.
Ibuku adalah wanita tersabar di dunia ini. Tidak pernah aku merasakan pukulan atau cubitan beliau, bahkan aku tak pernah mendengar kata-kata yang menyakitkan hati keluar melalui kata-kata beliau. Aku patuh dan hormat bukan karena kegarangan dan kekerasan, tetapi karena kesabaran beliau. Jika Geisha dalam lagunya berjudul Tak Kan Pernah Ada, begitu juga denganku karena tak kan pernah ada yang mampu menggantikan posisi Ibu dihatiku dan dihidupku.
Ibu adalah Ibuku..................................
Rabu, 25 November 2009
DIALAH GURU
Kurasa bagai di kutub,
tapi ada seseorang
yang membuatku hangat
Kurasa bagai di padang pasir,
yang panas teriknya masuk
ke dalam tubuhku
tapi ada seseorang
yang mampu menyejukkanku
Bukankah kau tahu
siapa dia ?
dia yang mengorbankan
tenaga, waktu, bahkan hartanya
buat kita yang haus ilmu
Mungkin baru kini kita sadar
Betapa besar jasanya kepada kita
Maka,
maukah kau memberinya
walau hanya lontaran senyum
Tapi....tak banyak dari kita
yang buatnya kecewa
Namun dia tetap tegar
menyalurkan ilmunya
agar kita tidak menyesal nantinya.
Guruku....
terimakasih atas semua jasamu.
tapi ada seseorang
yang membuatku hangat
Kurasa bagai di padang pasir,
yang panas teriknya masuk
ke dalam tubuhku
tapi ada seseorang
yang mampu menyejukkanku
Bukankah kau tahu
siapa dia ?
dia yang mengorbankan
tenaga, waktu, bahkan hartanya
buat kita yang haus ilmu
Mungkin baru kini kita sadar
Betapa besar jasanya kepada kita
Maka,
maukah kau memberinya
walau hanya lontaran senyum
Tapi....tak banyak dari kita
yang buatnya kecewa
Namun dia tetap tegar
menyalurkan ilmunya
agar kita tidak menyesal nantinya.
Guruku....
terimakasih atas semua jasamu.
Langganan:
Postingan (Atom)
